The Pursuit Of Happyness


Director
: Gabrielle Muccino


Producers : Will Smith, Steve Tisch, James Lassiter, Todd Black, Jason Blumenthal

Writer : Steven Conrad

Casts : Will Smith, Jaden Smith, Thandie Newton, Dan Castellaneta

Date : December 15th 2006



Jika ditanya film apa yang jadi favorit saya, The Pursuit Of Happyness adalah jawabannya. Yes, Happyness with 'y'. (not 'i'). Film yang diadopsi dari kisah nyata ini adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Apalagi dengan dibintangi oleh aktor favorit saya, Will Smith dan putra tercintanya... Hmmm... sebenarnya saya ingin bercerita, tapi kok untuk film ini saya rasanya speechless yaa... Ternyata susah juga mendeskripsikan sesuatu yang benar-benar kita sukai... (bilang aja malas ngerangkum, hehehee...). Baiklah, ini ringkasan cerita yang saya dapatkan di Wikipedia :

Cerita film ini dimulai pada tahun 1981 di San Francisco, California. Linda dan Chris Gardner hidup di sebuah apartemen kecil bersama anak mereka yang berusia 5 tahun, Christopher. Chris adalah seorang salesman yang menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk membeli franchise untuk menjual scanner tulang (Bone Density Scanner) portable. Scanner ini memang mampu menghasilkan gambar lebih baik dari X-ray, tetapi kebanyakan dokter yang ditemui Chris beranggapan bahwa harganya terlalu mahal. Linda, istrinya, bekerja sebagai buruh di sebuah laundry. Keluarga kecil ini mulai terpecah ketika mereka menyadari bahwa mereka tak mampu membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Keadaan diperparah oleh kebiasaan Chris yang memarkir mobilnya sembarangan. Karena tak mampu membayar surat tilang, mobil Chris akhirnya disita. Puncaknya, Linda pergi meninggalkan Chris dan pergi ke New York City. Awalnya ia hendak membawa serta Christopher, namun urung atas permintaan Chris.

Dalam keadaan putus asa, Chris tak sengaja berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferari warna merah. Chris bertanya kepada orang itu, pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga mampu membeli mobil mewah? Orang tersebut menjawab bahwa ia adalah seorang pialang saham. Sejak saat itu Chris memutuskan untuk berkarir sebagai pialang saham.

Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar di sebuah perusahaan pialang Dean Witter Reynolds yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik. Dalam masa magang yang tak dibayar itu, Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia diusir dari rumah sewanya dan menjadi tuna wisma. Selama beberapa hari ia tidur di tempat-tempat umum, namun kemudian ia memutuskan untuk tidur di rumah singgah Glide Memorial Chruch. Karena keterbatasan tempat, mereka harus mengantri untuk mendapatkan kamar. Kadang mereka berhasil, kadang gagal dan terpaksa tidur diluar. Kemiskinan dan ke-tunawisma-an ini semakin mendorong tekad Chris untuk menjalankan tugas dengan giat dan mendapatkan pekerjaan di Dean Witter Reynolds.

Di akhir cerita, Chris berhasil menjadi peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu.

Beberapa adegan :


Chris, Christopher, dan Scanner tulang

waiting


Belajar, sambil menemani putra tercinta


Christopher menyimpulkan dasi untuk ayahnya


menemani Christopher makan (di saat keuangan krisis),
sambil terus belajar


togetherness


in the end of the pursuit of happiness
and the beginning of success


:smile: :smile: :smile:

Perjuangan ayah dan anak yang patut diacungi jempol. Sampai sekarang saya masih terharu kalo mengingatnya... Film ini membuat saya banyak bersyukur atas keadaan saya sekarang, sekaligus pemicu semangat untuk berjuang lebih keras lagi...
And.... what about you, apa film favorit kalian?


Regards,

-Nina-

Cerita Kentang


Seorang Ibu Guru Taman Kanak-kanak (TK) mengadakan "permainan". Ibu Guru menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan, 1 buah dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa... tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.

Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain."

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi.
Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya, bukan?


ah, sepertinya kentang ini harus segera dibuang jauh-jauh...
So, what about you? Berapa banyak kentang yang kalian miliki?

dan apakah kalian sudah membuangnya? Semoga sudah... :smile: :smile: :smile:

:wave::wave::wave:


Regards,

-Nina-


The Goal







is Just The One Goal