04 Mei 2009

'Bedah Buku Di Atas Sajadah Cinta (2)'

Posting kali ini masih membahas buku ‘Di Atas Sajadah Cinta’ karangan Kang Abik. Berhubung sekarang saya lagi kangen sama Ibu (soalnya kemarin cuma bisa ketemu sebentar), jadi ceritanya tentang Ibu saja ya… hehehe…

Well, cerita ini sebenarnya sangat familier sekali buat saya, mungkin bagi teman-teman juga. Sebelum baca di buku ini, cerita ini sudah pernah saya dengar di bangku SD (kalo ga salah ingat). Judulnya : Surga di Telapak Kaki Ibu.

Here is the story…..

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama sahabatnya di Masjid. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan mengatakan “Assalamu’alaikum!”.
Rasulullah dan para sahabat spontan menjawab, “Wa’alaikumussalam wa wahmatullah!”.
“Duhai Rasulullah, Abdullah bin Salam sakit keras dan sedang sekarat menjemput maut. Dia memanggilmu!” kata lelaki itu. Mendengar itu Rasulullah langsung bangkit.
“Bangkitlah kalian semua, mari kita tengok saudara kita!” ajak Rasulullah pada para sahabatnya. Sampai disana Abdullah bin Salam terbaring tak berdaya, nafasnya tersengal-sengal. Melihat itu Rasulullah mendekat dan membimbing Alqamah mengucapkan syahadat, “Abdullah, ayo ucapkan Lailahaillallah Muhammadurrasulullah!”
Beliau mengucapkan kalimat itu pada telinga Abdullah bin Salam tiga kali tapi Abdullah bin Salam tidak bisa mengucapkannya. Mulutnya seperti dikunci.

La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim!” kata Rasulullah SAW.
“Bilal, pergilah ke tempat istrinya dan tanyakan padanya apa yang telah diperbuat Alqamah selama di dunia dan apa pekerjaannya!” perintah Rasul pada Bilal. Bilal langsung pergi menemui istri Abdullah. Istrinya mengatakan, “Selama hidup bersamanya aku tidak pernah melihat dia meninggalkan shalat bersama Rasulullah. Hampir setiap hari ia memberikan sedekah. Tapi ia sedikit punya masalah dengan Ibunya”. Bilal lalu kembali menemui Rasul dan mengabarkan apa yang dikatakan Abdullah.
Rasulullah langsung bersabda, “Bawalah Ibunya kemari!”.

Bilal langsung bergegas untuk menemui Ibu Abdullah bin Salam. Sampai disana Ibunya bertanya, “Ada apa engkau kemari?”.
“Anakmu Abdullah sedang sekarat menjemput kematiannya. Aku datang kemari untuk memintakan maaf atas kesalahan kalian berdua dan memperbaiki hubungan kalian,” kata Bilal.
“Aku tidak memafkan kedurhakaannya. Ia telah menyakitiku. Aku tidak akan memaafkannya di dunia maupun di akhirat!” jawab Ibunya tegas.

Bilal lalu kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan segala yang dikatakan Ibu Abdullah bin Salam. Mendengar keterangan itu, Rasulullah bersabda,
“Umar, Ali, kalian berdua kembalilah ke tempat Ibunya dan bawa dia kemari!”.
Tanpa bicara, kedua sahabat utama itu langsung berangkat ke rumah Ibu Abdullah bin Salam. Sampai disana, sang Ibu bertanya,
“Wahai Umar dan Ali, ada apa kau datang kemari?”
“Wahai Ibu, Rasulullah SAW memanggilmu.” jawab Umar.
“Untuk apa beliau memanggilku?” kata sang Ibu.
“Nanti kau juga akan tahu, yang penting ikutlah kami menemui Rasulullah SAW.” tukas Umar.

Mereka bertiga akhirnya sampai di hadapan Rasulullah SAW yang berada di dekat Abdullah bin Salam yang sedang menanti detik-detik kematiannya. Rasulullah SAW berkata,
“Wahai Ibu, lihatlah anakmu yang sedang diambang kematian! Maafkanlah dia.”
“Aku tidak akan memaafkannya, baik di dunia dan di akhirat.” Kata sang Ibu.
“Maafkanlah. Apa kau tidak kasihan padanya, dia sampai tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat!” kata Rasulullah.
“Bagaimana aku akan memaafkannya? Dia memukulku dan mengusirku dari rumahnya karena mementingkan istrinya.” Sang Ibu bersikukuh tidak mau memaafkan dosa anaknya.
Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabat mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di samping Abdullah.
“Untuk apa Rasulullah?” tanya sang Ibu.
“Untuk membakar anakmu! Karena kau tak mau memaafkan dia” jawab Rasulullah.
Melihat anaknya akan dibakar hidup-hidup, hati Ibu Abdullah bin Salam akhirnya luluh.
“Baiklah, demi kebenaran risalahmu duhai Rasulullah, aku memaafkan kesalahan putraku”.

Setelah itu Rasulullah mendekati Abdullah bin Salam dan berkata, “Abdullah, ucapkanlah syahadat!”
Mulut Abdullah lalu berkomat-kamit mengucapkan dua kalimat syahadat dengan jelas. Setelah itu ruhnya berpisah dari tubuhnya.
Inna lillahi wa inna ilahi rajiun!” ucap Rasulullah dan para sahabat. Setelah itu jenazah Abdullah dimandikan, dikafani, dan dishalati. Di Masjid Rasulullah bersabda,
“Wahai kaum muslimin sekalian ingatlah, orang yang mementingkan istrinya dan menyia-nyiakan Ibunya sehingga Ibunya tidak ridha padanya akan terancam mati tidak bersyahadat.”

***

Begitulah, betapa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada Ibu yang telah susah payah mengandung dan melahirkan ke dunia. Dalam sebuah hadits bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Surga berada di telapak kaki Ibu.”
Kisah di atas berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib ra. Dalam riwayat yang lain, nama sahabat yang wafat dan nyaris dibakar oleh Rasulullah SAW itu adalah “Alqamah”.


Dedicated to my beloved Mom
PS : May she always be under His loving care.. I love you, Mom..

Posted : May 4th 2009
Regards,

-Nina-

0 comments:

Poskan Komentar