14 Mei 2009

Ketika Kebenaran Bernilai Relatif

Ketika saya kecil, saya ga terlalu ambil pusing sama yang namanya hidup. Hidup berjalan lancar, apa adanya. Mengalir seperti air, tanpa rintangan berarti. Dulu pemikiran polos saya hanya bekisar pada 2 pilihan : 'ya' dan 'tidak'. Kata Ibu harus begini, saya nurut. Kata Ibu ga boleh begitu, saya juga nurut. Dan pandangan saya terhadap orang lain pun sama halnya, ada orang baik yang boleh diajak berteman, ada orang jahat yang harus dijauhi. Ada anak yang pintar, ada anak yang bodoh. Ada anak yang rajin, ada anak yang malas. Seperti halnya ada siang, ada malam. Ada dingin, ada panas. Ada pria ada wanita.

Well, beranjak dewasa saya merasakan ada banyak pergeseran akan hal itu. Sulit sekali menilai segala sesuatu jika hanya ditilik dari 2 sisi saja (ya dan tidak atau positif dan negatif) . Banyak keputusan yang diambil berdasarkan pemikiran yang matang berakhir di grey area (berada di zona antara ya dan tidak). Untuk beberapa kasus, saya merasa terjebak. Bingung kemana harus melangkah. Ke barat... timur... utara... selatan... barat daya... barat laut??. Sometimes I feel I am in a quandary. Dan takut memutuskan sesuatu yang pada akhirnya akan saya sesali di kemudian hari. Banyak pendapat yang beredar di indera pendengaran saya. Dan masing-masing kepala mempunyai pendapat yang berbeda. Saya pusing... Yang manakah yang tepat? Inilah yang saya sebut kebenaran bernilai relatif. Kebingungan saya akan berbagai pendapat itulah yang membuat saya merasa terjebak. Everybody feels that they are right in their point of view. And the truth depends on what they think. But sorry, I can't make everbody happy at the same time.... Ya.. I am so sorry... I can't...
I wish I could pretend that I don't know what's going on... Tapi pada dasarnya saya adalah orang yang sulit sekali berdamai dengan pikiran saya. Segala sesuatu yang meresahkan akan terus bersemayam di benak ini sampai semuanya beres... Walaupun saya selalu berusaha berpikir dengan logika, tapi tetap saja sebagai seorang manusia, perasaan saya ikut berkontribusi...
Well, sepertinya kebenaran bernilai relatif ini akan terus ada...
Ya Rabb... bimbinglah hamba untuk bisa berjalan di jalan yang tepat....

3 comments:

Meryl (proud pinay) mengatakan...

hi hijau, thank you for the visit and for the comment you left in my posts ^_^ take care always.

mardee mengatakan...

kebenaran itu tidak bersifat relatif, karena sebagai muslim sudah jelas dasar ukuran benar dan salah..

yang relatif itu adalah baik dan buruk. karena sesuatu yang baik untuk kita belum tentu baik untuk orang lain..

hijau-lumut mengatakan...

@Meryl
You're welcome, meryl...

@Mardee
Hmm... It's just what I feel when I am in a quandary. Nah, pada kenyataannya kita sering kali terjebak dalam situasi yang mengharuskan kita memilih salah satu dari berbagai macam opsi. Menentukan yang manakah yang benar itulah yang sulit, karena masing-masing pendapat (from different person) merasa benar.
Benar disini berarti benar dalam kacamata si pemberi pendapat. Itulah yang saya sebut relatif. It depends on what they believe.
Saya pikir kalo kita berada di situasi seperti itu, kita bakalan bingung bagaimana harus bersikap.
CMIIW, ka... :)

Poskan Komentar