12 November 2009

The Pursuit Of Happyness


Director
: Gabrielle Muccino

Producers : Will Smith, Steve Tisch, James Lassiter, Todd Black, Jason Blumenthal

Writer : Steven Conrad

Casts : Will Smith, Jaden Smith, Thandie Newton, Dan Castellaneta

Date : December 15th 2006



Jika ditanya film apa yang jadi favorit saya, The Pursuit Of Happyness adalah jawabannya. Yes, Happyness with 'y'. (not 'i'). Film yang diadopsi dari kisah nyata ini adalah salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Apalagi dengan dibintangi oleh aktor favorit saya, Will Smith dan putra tercintanya... Hmmm... sebenarnya saya ingin bercerita, tapi kok untuk film ini saya rasanya speechless yaa... Ternyata susah juga mendeskripsikan sesuatu yang benar-benar kita sukai... (bilang aja malas ngerangkum, hehehee...). Baiklah, ini ringkasan cerita yang saya dapatkan di Wikipedia :

Cerita film ini dimulai pada tahun 1981 di San Francisco, California. Linda dan Chris Gardner hidup di sebuah apartemen kecil bersama anak mereka yang berusia 5 tahun, Christopher. Chris adalah seorang salesman yang menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk membeli franchise untuk menjual scanner tulang (Bone Density Scanner) portable. Scanner ini memang mampu menghasilkan gambar lebih baik dari X-ray, tetapi kebanyakan dokter yang ditemui Chris beranggapan bahwa harganya terlalu mahal. Linda, istrinya, bekerja sebagai buruh di sebuah laundry. Keluarga kecil ini mulai terpecah ketika mereka menyadari bahwa mereka tak mampu membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Keadaan diperparah oleh kebiasaan Chris yang memarkir mobilnya sembarangan. Karena tak mampu membayar surat tilang, mobil Chris akhirnya disita. Puncaknya, Linda pergi meninggalkan Chris dan pergi ke New York City. Awalnya ia hendak membawa serta Christopher, namun urung atas permintaan Chris.

Dalam keadaan putus asa, Chris tak sengaja berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferari warna merah. Chris bertanya kepada orang itu, pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga mampu membeli mobil mewah? Orang tersebut menjawab bahwa ia adalah seorang pialang saham. Sejak saat itu Chris memutuskan untuk berkarir sebagai pialang saham.

Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar di sebuah perusahaan pialang Dean Witter Reynolds yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik. Dalam masa magang yang tak dibayar itu, Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia diusir dari rumah sewanya dan menjadi tuna wisma. Selama beberapa hari ia tidur di tempat-tempat umum, namun kemudian ia memutuskan untuk tidur di rumah singgah Glide Memorial Chruch. Karena keterbatasan tempat, mereka harus mengantri untuk mendapatkan kamar. Kadang mereka berhasil, kadang gagal dan terpaksa tidur diluar. Kemiskinan dan ke-tunawisma-an ini semakin mendorong tekad Chris untuk menjalankan tugas dengan giat dan mendapatkan pekerjaan di Dean Witter Reynolds.

Di akhir cerita, Chris berhasil menjadi peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu.

Beberapa adegan :


Chris, Christopher, dan Scanner tulang

waiting


Belajar, sambil menemani putra tercinta


Christopher menyimpulkan dasi untuk ayahnya


menemani Christopher makan (di saat keuangan krisis),
sambil terus belajar


togetherness


in the end of the pursuit of happiness
and the beginning of success


:smile: :smile: :smile:

Perjuangan ayah dan anak yang patut diacungi jempol. Sampai sekarang saya masih terharu kalo mengingatnya... Film ini membuat saya banyak bersyukur atas keadaan saya sekarang, sekaligus pemicu semangat untuk berjuang lebih keras lagi...
And.... what about you, apa film favorit kalian?


Regards,

-Nina-

10 comments:

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

setujuuu..
aku juga suka banget ma film ini, kisah nyata lagi..
eh, salam kenal ya.. nice post :)

Jimmy Ahyari mengatakan...

Nina.. kuminta filmnya :D hihihihi..
btw, kalau berkenan, maukah dirimu menaruh link http://blogkita.info/sekilas-info/mengembalikan-jati-diri-bangsa/ dengan teks "Mengembalikan Jati Diri Bangsa" (tanpa tanda kutip) di sidebar Nina? :D <--mencari dukungan urang mipa.. hihihihi.. makasih ya..

Anonim mengatakan...

nin kayanya seingat ane , ane di tag deh dicatatn FB kok ndk ada? di hapus ya?? (dhani)

mardee mengatakan...

sayang endingnya kurang 'greget' sedikit :D
tp secara keseluruhan film ini buagus!!

thanks nin for your recomendation :)
*bener ga englishnya*

Deacy mengatakan...

"Ternyata susah juga mendeskripsikan sesuatu yang benar-benar kita sukai"

Beugh, setuju sekali ane!!! karena sangat suka jadi susah untuk mendeskripsikannya dalam kata-kata....perlu mikir yg dalem gitu ya....sering sekali ane mengalami begitu, hehehe

Elsa mengatakan...

film ini, bikin aku nangis....
anaknya itu lho, keren banget!!!! pengertian sama bapaknya.anak yang baik..bapak yang baik...

attayaya mengatakan...

perjuangan hidup
patut menjadi contoh

liew267 mengatakan...

aku dah ngopi nin ai,, tapi belum ku tonton hehe..

caca mengatakan...

ya ampun aku udah ntn ni... sedih bgt....

ryoketchildz mengatakan...

Setuju !! :D
aku suka banget sama nih film.

Poskan Komentar