23 Februari 2009

When you can live forever, what do you live for?


(lihat tulisan yang dilingkari ellips berwarna putih, kalo ga kelihatan, silakan lihat gambar di bawah, hehehehe.......)


Kata-kata ini saya dapatkan dari poster film “Twilight”. Film yang lagi booming di kalangan anak muda. Saya belum sempat nonton sih… Baca bukunya juga belum, hehehe…. Ceritanya tentang vampire yang jatuh cinta sama manusia.

Well, saya disini ga membahas tentang film atau novelnya soalnya belum nonton dan baca, jadi ga ngerti… hihihi… Saya cuma tergelitik untuk membahas kalimat “when you can live forever, what do you live for?”

Hmmmmm… saya mulai dari mana dulu ya…?
Mulai dari arti kata “live” dulu deh. Kata “live” secara harfiah diartikan sebagai “hidup” yang berfungsi sebagai kata kerja. Hidup disini berarti hidup di dunia. Selama kita masih bernapas, masih bisa bergerak, jantung masih berdenyut, dan otak masih bisa berfungsi, kita masih bisa dikatakan hidup. Selainnya dikatakan mati (meninggal).
Hmmm… sebenarnya menurut saya kita masih hidup kok.. hanya karena ruh sudah terpisah dari raga, kita divonis meninggal. Tapi sebenarnya kita masih ‘hidup’. Hidup di alam lain. Karena sebagaimana yang saya yakini, akan ada kehidupan setelah dunia. Dunia adalah tempat kita mengumpulkan ‘modal’ dan kematian adalah moment dimana kita melanjutkan perjanan ke ‘kehidupan yang abadi’. Ya, menuju surga. Surga yang dijanjikan Allah SWT untuk orang yang beriman. Semoga kita termasuk diantaranya, Aamiin…
Seperti perantau yang selalu merindukan kampung halaman, yang selalu ingin kembali kesana. Maka sama halnya dengan surga (tempat tinggal Nabi Adam AS pertama kali) adalah tempat yang selalu dirindukan manusia. Karena disanalah kedamaian benar-benar ada…. Tempat manusia kembali, seperti sedia kala…

Saya jadi teringat kuliah Filsafat ilmu tiga tahun yang lalu. Dosen saya mengatakan bahwa:
“hidup = mati”.

Diperoleh dari penjabaran seperti ini :
“setengah hidup = setengah mati”.
Kemudian dengan menggunakan hukum kanselasi kiri (membuang ‘item’ disebelah kiri) dihasilkan:
“hidup = mati” atau jika dikomutatifkan menghasilkan
“mati = hidup”
.

Dulu saya ga ngerti kenapa bisa-bisanya disamakan.
I thought it was no-sense at all! Hahaha… pemikiran saya picik sekali waktu itu. Filsafat memang ilmu yang benar-benar sulit dimengerti. Tapi seiring dengan bertambahnya usia, akhirnya sekarang saya sudah mulai memahami, mungkin yang dimaksudkan Dosen saya itu seperti yang saya jelaskan diatas.
Jadi intinya begini :
Boleh jadi raga ini mati, tapi jiwa kita sesungguhnya masih hidup.

Sekarang balik lagi ke pertanyaan : When you can live forever, what do you live for?.
Hmmm… pertanyaan yang sulit. Jujur saja saya tidak pernah berandai-andai bisa hidup di dunia selamanya. Karena sudah menjadi hukum alam bahwa segala yang bernyawa, pasti akan mati. Segala sesuatu dari Allah, pasti kembali pada Allah juga.
Well, okay, saya akan berandai-andai. Sekali lagi, hanya berandai-andai.
Ketika saya bisa hidup selamanya, apa yang saya harapkan?
Boleh kan saya mengandaikan bahwa hidup selamanya berarti saya ga bakalan meninggal? Berarti, apapun yang terjadi, saya akan tetap hidup.
Kabar baiknya, saya ingin mengabdikan diri saya untuk menolong sesama. Dikarenakan jiwa dan raga saya yang akan terus hidup, saya jadi tidak takut mengambil resiko karena sudah ada jaminan (masih dalam pengandaian, hehehe…).
Untuk itu, saya ingin menjadi sukarelawan. Baik dalam perang dengan ikut tim MAP (Medical Aid for Palestinians) misalnya jadi tukang ngepel lantai Rumah Sakit (karena basically saya bukan mahasiswi kedokteran ^^), maupun dalam hal lain yang beresiko tinggi yang sifatnya positif. Membantu apa saja, sesuai dengan kemampuan saya. Saya ingin sekali perdamaian ada di bumi ini
(*tangan dikepal, badan berdiri tegak, pakaian berkibar-kibar* mode: on).

Ya walaupun pengandaian, saya tetap realistis kok.
Kalo saya terus hidup, misalnya suatu saat badan saya hancur berkeping-keping kena serpihan bom gimana? Gimana rasanya tetap hidup dengan kondisi tubuh yang mengenaskan seperti itu? What kind a life would that be? Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Allah mengambil nyawa saudara-saudara kita di bumi Palestina sana. Tubuh-tubuh yang hancur, yang sangat sulit untuk kembali berfungsi secara normal, Allah ambil kembali, karena Dia begitu sayang sama mereka… Karena Dia tidak mau ummat pilihan-Nya menderita di dunia ini……
Kalo saya terus hidup, ketika saya tak mampu lagi berjalan, bergerak, dan hanya bisa terbaring lemah, apakah saya masih akan bermanfaat? Tidak. Justru saya yang malah merepotkan hidup orang lain…..
Sekarang kita mulai hitung-hitungan nih.
Misalkan hidup selamanya kita definisikan sebagai infinite. Infinite dibahasakan ke matematika menjadi ‘tak hingga’.
Masih ingat berapa nilai x dibagi dengan tak hingga, dengan diketahui x merupakan anggota dari bilangan Riil?
Ojo pusing-pusing bapak-bapak, ibu-ibu... jawaban dari pertanyaan diatas adalah mendekati 0 (nol), hehehe…..
Dari jawaban itu saya mencoba mengartikan ke dalam bahasa yang lebih sederhana bahwa :
Kehidupan di dunia ini tidak ada yang abadi. Probabilitas (peluang) kita bisa hidup selamanya di dunia ini adalah nol atau zero atau nihil atau tidak akan terjadi.
Dan probabilitas kita mati adalah 1 atau 100% atau 1000/1000 (hehehehe…..) atau pasti. Karena itu memang sudah ketetapan Allah.
Lantas, apa hubungannya dengan pembagi 'tak hingga' tadi??
Nah... karena pembaginya sangat sangat sangat buanyak sekali... maka dikhawatirkan hasil yang diharapkan menjadi tidak maksimal. Get it?
Lagipula, kalo kita bisa hidup di dunia selamanya, kapan kita bisa menikmati surga? ^^v

Sesuatu yang optimal akan disebut optimal jika ada suatu batasan atau kendala. Kendala bisa berupa apa saja.
Ilustrasinya begini :
Misalnya (kita hitung-hitungan lagi ya) kita punya modal Rp. 10.000.000,-.
Dengan modal Rp. 10.000.000,- kita pengen jualan pakaian. Contohnya : baju, celana, dan rok. Ketiga barang ini memiliki harga beli yang bervariasi dan keuntungan yang bervariasi pula.
Misalkan :
  • Untuk baju dibeli dengan harga Rp. 50.000,- per potong, dengan harga jual Rp. 75.000- perpotong. Jadi keuntungannya Rp. 25.000,- perpotongnya.
  • Untuk celana dibeli dengan harga Rp. 80.000,- per potong, dengan harga jual Rp. 100.000,-. Jadi keuntungannya Rp. 20.000,- perpotongnya.
  • Dan untuk rok dibeli dengan harga Rp. 85.000,- per potong, dengan harga jual Rp. 100.000,-. Jadi keuntungannya Rp. 15.000,- perpotongnya.
Kendalanya, jumlah barang ini tidak boleh lebih dari 200 potong (dengan alasan mahalnya biaya pengiriman, hihihihi).
Pertanyaannya, berapakah jumlah baju, celana, dan rok yang harus dibeli agar menghasilkan keuntungan optimal (maksimal)?
Setelah melalui perhitungan, jumlah barang yang harus dibeli adalah : 200 potong baju, 0 potong celana, dan 0 potong rok.
Sehingga, hasil optimal yang diperoleh (modal + laba) adalah Rp. 15.000.000,-
(dengan catatan : barangnya laku semua, hahaha…).

Duuuhhhh.... sepertinya pembahasan saya sudah semakin melebar ya
- -”...
Sekarang mari kita telaah, dari contoh diatas sudah dapat clue-nya?
Artinya, dengan adanya keterbatasan, dengan adanya suatu kendala, maka kita bisa mengetahui (memprediksi) hasil yang akan kita peroleh. Sama halnya dengan hidup. ‘Umur’ yang diberi oleh Allah adalah ‘kendalanya’. Bagaimana kita bisa memaksimalkan ‘keuntungan’ adalah usaha untuk mendapatkan ‘pahala’ (ridho-Nya). Dan ‘barang-barang’ seperti baju, celana, dan rok itu adalah ‘ibadah-ibadah’ yang kita lakukan untuk-Nya. Oiya, kendala-kendala lain selain umur adalah faktor kesehatan, kondisi finansial, dll.
Pertanyaannya, lha gimana caranya memaksimalkan semua itu kalo umur kita aja ga tau berapa?
Nah, disitulah tantangannya. Karena umur tidak bisa diprediksi, maka berusahalah memaksimalkan waku yang tersisa. Karena kematian itu adalah pasti, maka tidak ada waktu untuk bermain-main. Bisa saja satu jam lagi setelah membaca postingan saya ini kita meninggal kan?. Tapi bisa jadi 50 tahun lagi kita masih segar bugar.
Intinya, sudah siapkah kita?
Jadi kesimpulannya posting ini hanyalah perenungan saya saja. hehehe.... ^^v
Hopefully, this article is good enough for you to read.
Semoga umur kita yang tersisa diberkahi oleh Allah SWT…. Aamiin….
So, what about you? When you can live forever, what do you live for?


Regards,

-Nina-

0 comments:

Poskan Komentar